Tampilkan postingan dengan label Telco. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telco. Tampilkan semua postingan

[telco] Anda (sudah) punya 2 Hape?

Hi pembaca,

menurut survey dari Telecom Asia, edisi April 2008, ternyata trend memiliki lebih dari 1 hape, menjamur di kawasan Asia Pasific.

Hongkong: 1 Hp (60%) 2 Hp (31%) 3 Hp (9%)
Taiwan: 1 Hp (56%) 2 Hp (31%) 3 Hp (12%)
Aussie: 1 Hp (71%) 2 Hp (24%) 3 Hp (5%)
Korea: 1 Hp (79%) 2 Hp (16%) 3 Hp (6%)
Indonesia: 1 Hp (83%) 2 Hp (15%) 3 Hp (1%)
China: 1 Hp (86%) 2 Hp (13%) 3 Hp (1%)
Japan: 1 Hp (84%) 2 Hp (12%) 3 Hp (4%)
Thailand: 1 Hp (87%) 2 Hp (11%) 3 Hp (2%)
Vietnam: 1 Hp (94%) 2 Hp (4%) 3 Hp (2%)
India: 1 Hp (96%) 2 Hp (3%)

Berdasarkan data ini, kecenderungan pemilikan lebih dari 1 hape, sangat menjamur di Asia.

Menurut saya, jika nanti model HP GSM-CDMA harganya sudah merakyat, trend pemilikan 2 hape akan cenderung menurun. Operator CDMA dan GSM dapat disatukan di satu handset saja.

Ada yg mau comments? Monggo..

Ben

Hi bloggers,

based on recent survey by Information Communication Telecommunication (ICT Watch), published by Media Indonesia, Friday, April 4, 2008 - on 4.888 respondents in Jakarta:

Advertisement Concept
53% respondent said the ads are false and no educational content
29% of them stated the ads are not clear - confusing

Price War Ads
42,4% said they are false and not fully disclose
38,4% - they are exaggerating!
9,3% - they are useful
7,3% - neutral
2% - no idea

Ads same with reality?
51,9% - they are false!
27,5% - ads are implemented in reality
12,1% - did not understand how to measure it
8,5% - no idea

Service improvement along with the ads?
50,7% - same
29% - better
19% - worse
1% - no idea

Most interested ads:
34,8% - XL
26% - Telkomsel
11,3% - Indosat
8,9% - Bakrie Telecom
6,5% - 3
6,2% - Telkom Flexi

My conclusion:
Spending a lot of "cheapest rate" ads - in reality - most of subs do not really believe the contains are true!

I think the operators should give "real benefits" to subscribers - like
- SMS bonus, free data access, free talk (on net/sesama or off net /antar operator), both for prepaid and postpaid users
- longer active period for prepaid vouchers
- improve quality of service - cut drop call rate!
- expand the coverage areas

Any idea, bloggers?




[Telco] Indian Telco - Merger or Die!

Hi Pembaca,

Saya baca Telecomasia, edisi Maret 2008 yang menyebutkan bahwa industri telco India, juga serupa dengan di Indonesia.

India, dengan 8 operators (6 GSM dan 2 CMDA), sedang dalam tahap persaingan harga yang sangat ketat. Bharti Airtel, operator terbesar di India, menurunkan tarif percakapan prepaid dari $ 5 cent ke $ 2,5 cent per menit. Hal ini juga diikuti oleh Reliance, operator kedua terbesar di negara itu.

India memiliki 237 juta subscribers, dimana 90% adalah prepaid subscribers, dimana Bharti dan Reliance menguasai 40% pasar seluler.

Dengan strategi harga murah akan berdampak pada turunnya ARPU (Average Revenue Per User). Hal ini, menurut pengamat, akan menyulitkan posisi pemain pemain baru di dunia telco negeri Mahatma Gandhi ini. Bahkan, diprediksikan, merger antar pemain baru, akan terjadi sekitar akhir 2008 dan awal 2009.

Sebagai catatan, beberapa operator international sudah menancapkan kuku di sana, seperti SingTel, Vodafone, Telecom Malaysia, Maxis, Shyam (Russian Operator) dan Virgin Mobile (expected to collaborate with Tata Teleservices).

Pengamat berkata, konsolidasi akan terjadi, ketika subscriber base berada di angka 400 juta.Yang cukup menakjubkan, jumlah subsriber rata2 meningkat sebesar 8 juta tiap bulan nya!

Jika dihubungkan dengan industri telco di Indonesia, situasi nya sama, dimana banyak pemain baru dan perang harga sedang berlangsung panas.

Apakah akan ada merger di antara operator di bumi Indonesia ini? Kita lihat saja tanggal mainnya..


Ben

[Telco] Perang Tarif - Operator CDMA Bersatulah!

My Bloggers,

Menyambung diskusi mengenai perang tarif antar operator - sekarang sudah tidak dapat lagi dibedakan mana tarif murah GSM atau CDMA. Sepengetahuan saya, tarif CDMA akan lebih murah daripada GSM, karena jangkauan CDMA yang lebih terbatas dari GSM.

Dan setahu saya, BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) menetapkan tingkatan tarif, dari yang termurah ke paling mahal: Fixed Wireless (esia, flexi, ceria), Mobile Wireless (Fren, Smart), dan GSM (Telkomsel, XL, Indosat, 3). Struktur tarif tersebut dikorelasikan dengan luas jangkauan komunikasi.

Dengan perang tarif, maaf saya agak sarkastik menyebutnya sebagai "Predatory Price War (PPW)", tingkatan tersebut seakan dilupakan. Dengan menggunakan produk GSM seperti XL, nelpon sepuasnya cuma 600 perak. Sedangkan, nelpon dengan Flexi 735 perak /jam (khusus nomor Jabodetabek), Esia 1000 rupiah.

Jadi, dimanakan letak keunggulan CDMA dengan adanya PPW ini? Akhirnya sebagai end user, orang akan berpikir, kenapa harus punya 2 handset, CDMA dan GSM, jika dengan GSM aja bisa nelpon sama murahnya dengan CDMA?

Ujung ujungnya, ruang gerak pasar CDMA makin kepepet. Jika keadaan ini terus berlangsung, wah, saya khawatir, operator CDMA banyak yang harus merger neh...

Sebuah wacana, bersatu kita teguh.

Apakah mungkin CDMA operator bersatu untuk mencapai tarif yang lebih "kompetitif" dari GSM - yang tidak hanya sesama operator, tapi juga lintas operator?

Kedua, jika sekarang perang tarif masih di voice area, bisa diimplementasikan juga di data area. Misalnya, menawarkan paket data untuk berinternet ria yang murah abisss..

Bagi pembaca yang punya ide atau protes dengan artikel ini, ditunggu comment nya. Monggo..

dunia telco Indonesia - Red Ocean industry

Bloggers,

Dunia telco di Indonesia, sejak 2006, diramaikan dengan munculnya operator baru, baik berbasis techology CDMA ataupun GSM.

Banyak orang optimis, bahwa telco industry akan terus tumbuh pesat di 5 tahun mendatang. tapi, secara pribadi saya pesimis, karena munculnya perang tarif saat ini, membuat operator berbasis GSM, sama murah, bahkan lebih murah dari CDMA. bayangkan!

Jika keadaan ini berlanjut terus, besar kemungkinan operator baru, baik CDMA maupun GSM, akan dipaksa merger. Kenapa? karena pemain baru belum mempunyai basis pasar yang kuat, dan terus mendapat gempuran dari para pendahulunya..

really red ocean industry, di mana saling "bunuh" dengan tarif yang lebih murah, dan lebih murah...

bagaimana tanggapan anda?



Posting Terbaru

Komentar Terbaru